FASE NUSANTARA SEBAGAI JEMBATAN PERADABAN

 FASE NUSANTARA JEMBATAN PERADABAN DARI PASUNDAN KE SELURUH DUNIA

Setelah melalui fase Kasundaan yang masih bersifat murni dan terpusat di Tanah Pasundan-Parahyangan, perlahan namun pasti peradaban itu mulai mengalir ke berbagai penjuru Nusantara yang kala itu Nusantara merupakan seluruh wilayah Asia Tenggara saat ini. Arus ini bagaikan aliran sungai yang meninggalkan mata airnya, menyusuri lembah dan lautan, hingga akhirnya menyuburkan banyak tanah dan melahirkan kehidupan baru.

Perjalanan panjang itu kemudian kita kenal sebagai fase Nusantara, di mana Sunda bukan lagi sekadar nama sebuah tanah, melainkan menjadi roh yang berkelana ke seluruh kepulauan. Dari Sunda, benih bahasa, adat, dan spiritualitas mengalir ke Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali, Sulawesi, Maluku, hingga Nusa Tenggara. Bahkan lebih jauh lagi, pengaruhnya menyeberangi lautan sampai ke Filipina, India, dan tanah Asia lainnya.

Dalam fase inilah, jejak Sunda seolah larut ke dalam banyak nama dan bentuk peradaban. Namun, siapa yang mampu melihat dengan mata batin akan menemukan benang merah yang halus: kesamaan bahasa, keserupaan tata cara hidup, bahkan kesamaan nilai-nilai yang menjunjung kebersamaan, keselarasan, dan penghormatan kepada alam.

Sunda dalam fase Nusantara ini bagaikan seorang ibu yang merelakan anak-anaknya merantau, menyebar, dan membangun rumah masing-masing. Namun, sekuat apa pun mereka berjalan jauh, mereka tetap membawa darah yang sama, napas yang sama, dan roh yang berasal dari sumber yang sama. Oleh karena itu saat ini kita tidak heran melihat fenomena, banyak orang asing (bule) yang ingin tetap tinggal di Indonesia dan tidak mau kembali ke negara asalnya, bukan hanya karena wisata alamnya Indonesia yang menjadi daya tarik mereka (banyak di dunia ini yang tempat-tempat wisatanya lebih bagus dari Indonesia), tapi karena jiwanya mereka seolah-olah dipanggil oleh leluhur-leluhur atau nenek moyang mereka yang pernah tinggal atau lahir di Indonesia bahkan berasal dari Negeri Pasundan-Parahyangan.  Karena dari Tanah Pasundan Parahyangan/Nusantara/Indonesia ini lah munculnya awal peradaban manusia. Jadi seolah-olah para orang asing tersebut itu jika berwisata atau mengunjungi dengan alasan-alasan lainya ke Indonesia, mereka merasa seperti mudik pulang kampung ke rumah orangtuanya tanpa mereka sadari.

Setiap mereka mencicipi masakan Indonesia, jiwanya merasa seperti menyantap masakan nenek mereka. Ketika mereka tidur, mereka merasa seperti tidur di tempat tidur ibunya. Ketika mereka bergaul dengan masyarakat Indonesia, mereka merasakan sperti bermain dengan sahabat-sahabat mereka. Oleh karena itu juga lah banyak para orang asing (bule) sangat ingin belajar bahasa Indonesia bahkan bahasa-bahasa daerah di Indonesia, mungkin jiwanya merasakan bahwa bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah itu seolah-olah tidak asing di telinganya, ibarat seorang bayi yang masih berada di dalam kandungan ibu, dia sudah bisa mendengar pembicaraan dan ucapan orang tuanya dan saat bayi itu tumbuh beberapa bulan, bayi itu sudah dapat mengerti apa yang orangtuanya katakan, karena kata-kata dari orang tuanya itu pernah dia dengar sewaktu masih dalam kandungan.

Yang lebih mengejutkan lagi, ada beberapa atau bisa dikatakan banyak, komunitas-komunitas orang asing (bule)  menginginkan dan sedang berusaha keras untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional menggantikan bahasa Inggris, karena menurut mereka bahasa Indonesia jauh lebih mudah dipelajari dan lebih mudah pengucapannya dan simpel untuk memahami artinya, bahkan Bahasa Sunda pun ikut terbawa akan mereka jadikan bahasa pergaulan antar bangsa.

Dan anenya lagi, orang- orang asing bisa dengan mudah dan cepat untuk beradaptasi dengan segala macam yang ada di Indonesia ini. Mungkinkah ini sebagai bukti nyata bahwa memang benar bahwa nenek moyang mereka berasal dari Negeri Pasundan/Nusantara ini ?


Wallahu a'lam bissawab 🤲 


Dalam fase Nusantara, roh Ki Sunda hadir tidak hanya sebagai sebuah wilayah, melainkan juga sebagai pijakan awal bagi berdirinya kerajaan-kerajaan besar lain.

Di Jawa, hubungan Sunda dengan Mataram Kuno maupun Majapahit tidak bisa dilepaskan. Walaupun sejarah resmi sering menampilkan kisah konflik, namun sesungguhnya ada jalinan benih budaya yang sama. Bahasa Jawa Kuno memiliki banyak irisan dengan Sunda Kuno; nilai-nilai rukun, hormat, dan unggah-ungguh seakar dengan someah ka semah, silih asih, silih asah, silih asuh dari tanah Pasundan.

Di Sumatra, kerajaan Sriwijaya tumbuh sebagai pusat maritim dan ilmu pengetahuan. Namun, jika kita perhatikan, ada kesamaan aksara dan bahasa dengan Sunda Kuno. Jalur perdagangan Sriwijaya yang menghubungkan India, Cina, hingga Timur Tengah, sejatinya juga membawa roh Nusantara yang sudah berakar di Pasundan.

Di Bali, harmoni antara manusia, alam, dan Sang Hyang Widhi (Tri Hita Karana) sejiwa dengan falsafah Sunda Wiwitan tentang keseimbangan alam semesta. Banyak kosakata bahasa Bali yang serumpun dengan Sunda, seolah-olah keduanya berasal dari ibu yang sama namun memilih jalan hidup berbeda.

Di Sulawesi dan Maluku, kita temukan jejak keserupaan kata, lagu rakyat, hingga pola hias yang mengingatkan kita pada motif-motif Sunda.

Bahkan di Kalimantan banyak kosa kata yang sama arti dengan kosa kata bahasa Sunda terutama di Banjarmasin, bahkan kata Banjarmasin itu sendiri jika diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda yang artinya ikan asin yang berjajar/dijajarkan tidak menutup kemungkinan bahwa di daerah Banjarmasin dahulunya banyak masyarakatnya yang menghasilkan ikan asin sebagai mata pencaharian mereka dan pada saat proses penjemuran ikan asin itu dijajarkan di atas rak ikan yang terbuat dari bambu.

Ada juga hal yang menarik yang mungkin ini akan menjadi hal untuk diteliti lebih jauh, yaitu menurut Google di seluruh wilayah Kalimantan sudah lazim orang menyebut "Urang Cina" untuk sebutan bagi orang - orang etnis Tionghoa. Pertanyaannya adalah mengapa mereka menggunakan kata URANG ?, yang itu merupakan bahasa Sunda, mengapa mereka tidak menggunakan kata ORANG ?, yang lebih masuk akal karena kata itu kata resmi dari bahasa Melayu, yang wilayahnya itu sangat dekat dengan wilayah Melayu.


Lebih jauh lagi, arus roh Ki Sunda ini menyentuh wilayah di luar Nusantara:

Di Filipina, khususnya dalam bahasa Tagalog, terdapat banyak kosakata yang serupa dengan bahasa Sunda dan artinya juga sama. Misalnya: manuk, bakakak, hahalang, gugulung, ulu = hulu, ilung = irung, tuur, book = buuk dan masih banyak lagi mungkin jika kita cari. Ini seolah menjadi saksi bisu bahwa nenek moyang mereka pernah bersentuhan dengan tanah Pasundan atau dengan Kasundaan atau tidak menutup kemungkinan bahwa wilayah Filipina itu masuk ke dalam wilayah Kerajaan Pajajaran pada masanya. Karena penulis masih ingat dulu tahun 80an, penulis pernah membaca sebuah buku di perpustakaan di Kota Bogor yang menyebutkan bahwa Kerajaan Pakuan Pajajaran dahulu kala mempunyai batas wilayah kekuasaannya sampai ke wilayah Champa, Indrapura berbatasan dengan negara Vietnam. Dan sampai saat ini penulis belom pernah mendengar adanya penolakan atau bantahan dari pihak-pihak tertentu atas hal itu. Maka dengan demikian klaim itu sementara ini bisa diyakini kebenarannya.


Di India, banyak kata dalam bahasa Hindi memiliki kemiripan dengan di daerah Pasundan. Lebih dalam lagi, ajaran-ajaran spiritual India kuno, seperti penghormatan pada alam, air, dan gunung, seolah merefleksikan nilai-nilai Sunda Purba. Walaupun mayoritas orang-orang mempercayai bahwa menurut sejarah banyak raja raja Sunda berasal dari India. Apakah betul demikian?, apakah itu bukan hal yang berlebihan ? , apakah sesederhana itu kah menafsirkannya?, apakah seharusnya kita coba menggali lagi lebih dalam sejarah tersebut?, apakah pihak-pihak  yang mengatakan demikian itu punya bukti-bukti geologisnya?, apakah kita harus percaya begitu saja atas informasi tersebut ?. 

Kita bisa mengambil contoh, penulisan hadist yang  tertolak hadistnya  sebagai hadits palsu, jika perawinya diindikasikan sebagai pendusta, tidak adil, fasiq atau jahalah maka hadist itu tertolak. Kurang lebih seperti itulah kita pun dalam  menerima sejarah. Kita semua tahu bangsa yang ikut menyusun sejarah bangsa Indonesia  bahkan mungkin sumber utamanya riwayat sejarah tersebut dari bangsa-bangsa yang dahulu menjajah kita, mendzolimi kita bersama kroni-kroni mereka. Lalu bagaimana kira-kira isinya dari sejarah tersebut? Sudah dipastikan isinya didominasi oleh rekayasa belaka hanya untuk kepentingan mereka. Mereka mendapatkan bahan-bahan baku sejarah yang super premium dari bangsa Nusantara dengan cara mereka boyong semua benda-benda bersejarah peninggalan peradaban bangsa Nusantara ini ke negara mereka, lalu mereka sajikan kepada kita cemilan murahan yang harus kita makan.

Semoga kita bisa bahas lagi lebih mendalam tentang hal ini di bab-bab selanjutnya.

Sebenarnya jika kita mau menggali lebih detail sedikit lagi , maka kita akan menemukan bukti bahwa cerita itu bohong. Kita tahu bahwa India adalah sekutu dari Inggris yang membantu kolonialisme di Asia Tenggara, dan membantu Belanda dalam peperangan dengan bangsa Indonesia. Apakah India dalam membantu Inggris dan Belanda itu gratis? Tentu tidak , mungkin saja atas bantuan India terhadap Inggris dan Belanda itu , mereka pastilah mendapatkan imbalan. Bisa jadi imbalannya adalah berupa penyisipan cerita tersebut ke dalam sejarah bangsa Indonesia agar India terlihat mentereng di mata dunia. Seperti halnya setelah Perang Dunia II, Inggris memberikan nama samudera yang dekat Indonesia itu dengan nama Samudra Hindia (Indian Ocean). Mungkin itu merupakan bentuk imbalan yang diberikan oleh Kerajaan Inggris kepada rakyat India. Jika beberapa analisa ini benar, maka "Jangan-jangan justru India lah yang terkena pengaruh peradaban yang kuat dari Negeri Pasundan.

----------

QS. Ali Imran, ayat 54

"Mereka membuat tipu daya dan Allah pun membalas tipu daya (mereka). Allah sebaik-baik pembalas tipu daya."

-----------

Mungkin saat ini lah Alloh SWT menggunakan tangan dan mulut Ki Sunda untuk membongkar tipu daya mereka. 

Wallahu a'lam bissawab.


Begitu juga ada kosa kata bahasa Sunda yang sama arti dengan bahasa Rusia, seperti "Cai", mungkinkah  ada kosa kata-kosa kata lainya ? Tidak menutup kemungkinan bisa jadi masih ada.


Apakah bukti-bukti yang disebut di atas hanya kebetulan saja ?

Penulis punya keyakinan kuat bahwa semua itu bukanlah sesuatu yang kebetulan. Insyaallah nanti kita bahas secara komprehensif di bab-bab berikutnya bahwa Tanah Pasundan-Parahyangan Purba / Negeri Pakuan Pajajaran /Nusantara adalah merupakan Tanah Leluhur manusia-manusia di bumi ini. Peradaban manusia berawal dari tanah Nusantara ini dan mereka semua adalah keturunan - keturunan dari bangsa Nusantara ini. 

Mungkin terdengar lucu, tapi insyaallah itu merupakan sebuah kebenaran. Insyaallah nanti kita bahas secara logika dan bukti-bukti yang ada yang hampir tidak dapat terbantahkan.

QS. Surat Az-Zariyat Ayat 20

‎"Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin."


---------------- 

Alloh SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat, ayat 13: 

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah SWT ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."







Comments

Popular posts from this blog

KATA PENGANTAR