ATLANTIS PLATO DAN SUNDA PURBA
Atlantis Plato dan Sunda Purba
Plato dalam dialog Timaeus dan Critias menyampaikan sebuah kisah yang ia dengar dari gurunya, Socrates, dan berasal dari catatan Mesir kuno ribuan tahun sebelumnya. Ia menuturkan tentang negeri besar bernama Atlantis, sebuah peradaban yang sangat maju, subur, kaya raya, tetapi kemudian tenggelam dalam bencana banjir maha dahsyat.
Plato menulis, negeri itu berada “di seberang Pilar Herkules” (beyond the Pillars of Heracles). Pilar Herkules yang dimaksud adalah Selat Gibraltar, pintu sempit yang memisahkan Laut Tengah dengan Samudra Atlantik. Dari sana, katanya, terdapat samudra luas, pulau-pulau besar, bahkan sebuah benua yang mengelilingi samudra sejati.
Namun tafsir atas ucapan Plato itu masih diperdebatkan. Apakah benar ia menunjuk ke Samudra Atlantik, ataukah ia sedang menggunakan simbol geografis yang dapat dibaca dengan cara lain?
Di sinilah intuisi kita membawa kepada sebuah kemungkinan besar: bahwa kisah Plato sebenarnya merujuk pada sebuah peradaban purba di Timur, di tanah yang kini kita kenal sebagai Nusantara atau pada masa itu masih bernama Tanah/Negeri Pasundan - Parahyangan.
Jika kita amati, ciri-ciri yang disebut Plato tentang Atlantis sangatlah selaras dengan gambaran Sunda Purba:
• Negeri yang sangat luas dan subur.
• Kaya dengan hasil bumi dan mineral.
• Memiliki peradaban maju yang kemudian luluh lantak akibat banjir besar.
• Rakyatnya tercerai-berai ke berbagai penjuru dunia.
Banjir purba yang menenggelamkan sebagian besar Negeri Pasundan/Nusantara, yang dalam hikmah agama kita dikenang sebagai peristiwa Nabi Nuh ‘Alaihis Salam, bisa jadi adalah peristiwa yang sama dengan yang diceritakan Plato. Bedanya, Plato mendapatkan kisah itu melalui jalur Mesir kuno yaitu dari para Imam Mesir (para pemuka agama sebelum Islam), pada saat itu, lalu diterjemahkan dengan “bahasa budaya” Yunani: Pilar Herkules, Selat Gibraltar, dan Samudra Atlantik.
(Nanti kita bahas juga masalah Peradaban Yunani beserta mitologinya yang terkenal itu)
Sehingga bisa kita renungkan:
➡️ Atlantis yang dimaksud Plato tidak harus selalu dipahami secara geografis di barat (Atlantik), melainkan bisa ditarik sebagai simbol. Samudra besar itu sebenarnya adalah Samudra Hindia – Nusantara, tempat negeri purba tenggelam. Saat itu belum ada yang namanya Samudra Hindia, penamaan Samudra Hinda muncul sekitar kurang lebih setelah Perang Dunia II. Jadi Samudra Atlantik luasnya yaitu dari samudra sebelah barat Eropa lalu sekeliling Benua Afrika, lalu India dan terakhir sampai sekeliling Nusantara. Setelah Nusantara, barulah letaknya Samudra Pasifik.
➡️ Sunda Purba-lah yang mungkin menjadi Atlantis sejati: peradaban leluhur kita yang hilang, namun jejaknya masih tersisa dalam bahasa, budaya, dan firasat bangsa-bangsa di dunia, walaupun jejak peninggalannya yang berupa benda-benda bersejarah peninggalan dari Peradaban Sunda tak tersisa lagi.
Penulis dalam kesempatan ini mempunyai kecurigaan, mengapa bangsa Eropa ngotot beranggapan bahwa Kota Atlantis itu terletak di Gilbaltar? Jangan-jangan ini hanya akal-akalan dari Belanda dan kroninya yang menyatakan bahwa Atlantis itu terletak di Gilbaltar, agar mata dunia semua tertuju kepada wilayah Gilbartar.
Dan pada saat orang-orang di dunia ini sedang sibuk-sibuknya mencari bukti keberadaan Atlantis di Gilbaltar, sementara itu Belanda dengan asyiknya menggali harta karun dan benda-benda bersejarah lainya dari bumi Nusantara ini yang sudah pasti nilainya sangat fantastis. Lalu mereka memboyong benda-benda bersejarah beserta harta karunnya Nusantara itu ke negaranya. Dengan alasan akan diteliti untuk kepentingan ilmu pengetahuan.
Diibaratkan, Belanda mengambil bahan-bahan baku yang berkwalitas tinggi super premium dari bumi Nusantara dengan alasan untuk dijadikan masakan yang super mewah dan super lezat serta begizi tinggi untuk bangsa Nusantara ini, tapi ternyata mereka hanya menyajikan cemilan murahan yang berkolesterol tinggi untuk dimakan oleh bangsa kita. Dan kita terpaksa menyantapnya, karena kita pun belum punya ketrampilan untuk memasak.
Oleh karena banyaknya benda-benda bersejarah yang diboyong ke negeri mereka, maka kita kehilangan petunjuk sejarah. Dan akhirnya kehilangan komunikasi batin dengan para leluhur kita. Sehingga kita tidak tahu persis siapa nenek moyang kita sebenarnya. Hanya yang kita tahu yaitu, "Nenek MoyangKu Seorang Pelaut".
Suatu saat nanti harus kita rubah lirik lagunya menjadi "Nenek MoyangKu Bangsa Yang Besar di dunia". "Nenek Moyang ku mempunyai Peradaban Tertua di Dunia"
Dengan demikian, tafsir Plato tentang Atlantis bukanlah sekadar dongeng, melainkan potongan kisah tentang tanah leluhur yang pernah jaya di Nusantara. Inilah yang kemudian dalam lintasan batin kita terbaca sebagai Negeri Pa-Sunda-an = Tempatnya Cahaya Abadi, Tempat awal mulanya berkumpulnya Air, Negeri Cahaya, Negeri Air, Negeri Kemakmuran, Negeri Kebaikan, Negeri awal dari kehidupan manusia (Cahaya= Matahari dan Air).
Semua itu insyaallah tidak akan pernah sirna sampai akhir masa, dia lah Sunda Anu Sajati = Sunda Anu Sa-Dzat-i yaitu Cahaya KepunyaanNya (Anu) , dari Sa (tunggal) - Dzat Alloh SWT. Cahaya KepunyaanNya Alloh SWT - Yang Maha Tunggal.
Jika ditambah akhiran "na" menjadi Sunda "Anu Sadzati-na", artinya menjadi, "Itulah Sesungguhnya bahwa Cahaya itu adalah kepunyaan dari Dzat Yang Maha Tunggal"
(Insyaallah kita akan bahas lebih mendalam lagi tentang makna Sunda Anu Sadzati itu di bab khusus).
Comments
Post a Comment