ATLANTIS PLATO, DAYEUH PAJAJARAN DAN BANJIR PURBA

 Atlantis Plato, Dayeuh Pajajaran - Sunda Purba, dan Banjir Purba


Jika kita menelaah kembali ucapan Plato tentang Atlantis, jelas ia sedang menggambarkan sebuah negeri agung yang tenggelam oleh banjir besar. Dalam pandangan batin, kisah itu bukanlah sekadar dongeng, melainkan gema dari sebuah kenyataan sejarah peradaban manusia. Atlantis itu sejatinya adalah Sunda Purba – tanah leluhur yang pernah menjadi pusat peradaban dunia, sebelum bencana besar meluluhlantakkannya.

Banjir purba yang dikisahkan dalam kitab-kitab suci – yang kita kenal sebagai banjir Nabi Nuh ‘Alaihis Salam – dalam rasa batin ini sejalan dengan runtuhnya Atlantis versi Plato. Gelombang air maha dahsyat menenggelamkan kota-kota besar, termasuk Dayeuh Pajajaran Purba, dan memaksa manusia tercerai-berai ke seluruh penjuru dunia. Dari sinilah muncul bangsa-bangsa, bahasa-bahasa, dan suku-suku yang beraneka ragam.

Sunda Purba yang hilang itu tidak berarti musnah sepenuhnya. Ia meninggalkan jejak melalui keturunan, budaya, dan pesan leluhur yang masih berdenyut sampai kini. Salah satu jejak paling kuat ada dalam Uga Wangsit Siliwangi, di mana Prabu Siliwangi menuturkan bahwa rakyat Pajajaran akan tercerai-berai ke empat penjuru mata angin: wetan (timur), kulon (barat), kaler (utara), dan kidul (selatan).

Pernyataan beliau:

> “Sakabeh turunan dia ku ngaing bakal dilanglang.”

Artinya: Semua keturunan kamu akan aku kunjungi.


Kalimat ini mengandung makna cinta kasih seorang leluhur kepada seluruh cucu-cucunya yang menyebar ke seluruh penjuru bumi. Bahwa meskipun mereka tercerai-berai, mereka tetap satu darah, satu asal, satu keluarga besar.

Maka ketika kita menautkan benang merah antara Atlantis Plato dan Sunda Purba, kita mendapati bahwa:

Atlantis = Sunda Purba, pusat peradaban yang tenggelam.

Banjir besar = banjir Nabi Nuh AS yang mengubah wajah bumi.

Pecahnya rakyat Pajajaran = cermin dari tercerai-berainya keturunan manusia ke berbagai bangsa.

Pesan Prabu Siliwangi = pengingat bahwa semua bangsa tetaplah satu keluarga besar dari asal yang sama.

Dengan demikian, kita bisa melihat bahwa kisah Plato, kisah kitab suci, dan kisah leluhur Sunda bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri-sendiri. Mereka adalah potongan mozaik dari satu kenyataan sejarah besar yang sama – hanya berbeda jalur pewarisan narasinya.


Dayeuh Pajajaran - Pada Masa Sunda Purba


Penulis dalam menulis naskah ini bersumber kepada Uga Wangsit Siliwangi, dan penulis tidak hanya  menterjemahkannya secara arti harfiahnya yang dengan mudah kita bisa minta Google untuk menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ataupun bahasa lainnya hanya dalam waktu yang singkat.

Penulis juga menerjemahkan Wangsit Siliwangi itu dengan cara mencari makna hakekatnya, maksud, dan rahasia dibalik ucapan Sang Prabu Siliwangi itu.

Ucapan Sang Prabu, "Ti mimiti poe ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Lengit "dayeuhna", leungit nagarana".

Mari kita logikakan : kata "dayeuh", menunjukan jumlah nya tunggal/satu/sebuah. Apakah masuk akal sebuah negara /Kerajaan hanya memiliki satu kota saja ? Karena Sang Prabu hanya menyebut "dayeuh" bukan menyebut "dayeuh-dayeuhna", artinya yang disebut hanya satu dayeuh, yaitu yang dimaksud adalah Dayeuh Pakuan Pajajaran. Sebagai simbol dari Kebesaran Kerajaan Pakuan Pajajaran. Dayeuh Pajajaran itu bukanlah Ibukota Kerajaan, karena ibukotanya berada di Kota Bogor. Dayeuh Pajajaran yang dimaksud adalah sebuah kota modern pada masa itu yang menjadi pusat Perdagangan Dunia atau pusat Perekonomi Dunia , jika di jaman sekarang istilahnya World Trade Center. 

Dayeuh Pajajaran bisa kita ibaratkan New York dengan Menara Kembarnya yang terkenal itu. Dan Ibukota Kerajaannya berada di wilayah Bogor sekitarnya sekarang ini. Dayeuh Pajajaran dan Ibukota Pakuan Pajajaran itu berjarak atau beda wilayah, seperti halnya New York dan Washington DC, beda wilayah. Dan New York jauh lebih terkenal dan lebih mentereng daripada Washington DC sebagai Ibukotanya.

Menurut perkiraan penulis yang didapat melalui mimpi, bahwa Dayeuh Pajajaran itu terletak di wilayah Laut Jawa, persis sebelah utaranya dari Jakarta sampai sebelah utaranya Semarang. Membentuk lingkaran yang sisi utaranya berbatasan dengan Wilayah Kalimantan Barat/Selatan, lalu sisi baratnya berbatasan dengan Palembang dan Lampung.

Dayeuh Pajajaran ini sangat terkenal di dunia saat itu menjadi wilayah perniagaan dunia, yang selat-selatnya menjadi selat tersibuk di dunia sejak masa itu. Salah satu jalur paling sibuk adalah Selat Malaka sebagai jalur masuk dari arah barat, lalu berikutnya adalah Selat Karimata sebagai pintu gerbang masuknya para pedagang dari Tiongkok (China) dari belahan bumi bagian timur. Maka dari itulah sampai saat ini China ngotot dengan jalur "Nine- Dash Line"nya , karena itu menurut mereka adalah jalur sutranya mereka yang mereka bangun sudah ribuan tahun sebelum Masehi yang lalu. Dan jalur itu pasti terdokumentasikan dengan baik dalam naskah-naskah kunonya mereka sebagai warisan dari para leluhur mereka.


Jadi Dayeuh Pajajaran itu tempat berkumpulnya para pedagang dari segala penjuru dunia melakukan aktivitas perniagaan atau jual beli. Dayeuh Pajajaran sudah menjadi Pasar Dunia pada masanya sejak ribuan tahun sebelum masehi. Dan itu menjadi ikon atau simbol dari jaman  Kejayaan, Keemasan dan Kebesaran nya Kerajaan Pakuan Pajajaran. Dan menjadi kebanggaan dari para penduduk Pajajaran. Oleh karena itu lah pada saat Prabu Siliwangi berpesan, mengucap "Dayeuh" yang dimaksud adalah Dayeuh Pakuan Pajajaran yang sangat terkenal itu dan menjadi ikon kerajaan.

(Kita akan bahas lebih detailnya di bab khusus)

Comments

Popular posts from this blog

KATA PENGANTAR

FASE NUSANTARA SEBAGAI JEMBATAN PERADABAN