BAB. I - PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
Naskah ini lahir bukan sekadar sebagai catatan sejarah, melainkan sebagai sebuah perjalanan batin yang berusaha menyibak tabir rahasia leluhur Sunda. Banyak hal yang selama ini hanya kita dengar sebatas mitos, legenda, atau cerita rakyat—namun sesungguhnya menyimpan isyarat mendalam yang menanti untuk dibaca kembali dengan mata hati.
Bagi sebagian orang, pembahasan tentang Kerajaan Pajajaran, Prabu Siliwangi, atau Uga Wangsit hanya ditempatkan pada ruang romantisme masa lalu. Tetapi bagi penulis, kisah-kisah tersebut justru adalah potongan puzzle yang jika dirangkai dengan rasa, firasat, dan logika sederhana, akan membentuk gambaran besar tentang siapa kita sebenarnya, dari mana kita berasal, dan ke mana arah kehidupan ini ditujukan.
Pendekatan yang dipakai dalam naskah ini bukanlah pendekatan akademis murni. Sebab penulis percaya, ada banyak hal yang tidak dapat disentuh hanya dengan data, angka, dan teori. Di sinilah perlunya amparan—suatu cara pandang yang menggabungkan pengalaman spiritual, intuisi, dan refleksi pribadi, lalu disejajarkan dengan jejak sejarah yang masih bisa ditelusuri.
Amparan seperti ini lah yang kami istilahkan dengan sebutan : Freestyle Spiritual - Rasional, dan orang yang melakukannya diistilahkan sebagai Freestyle Spiritualis - Rasionalis disingkat dengan sebutan Freestylis Sejarah.
Serta melalui amparan ini, pembaca diajak untuk membuka mata dan hati :
- Mengapa banyak sekali istilah Sunda yang mirip dengan bahasa asing di berbagai belahan dunia?
- Mengapa kisah besar seperti tenggelamnya peradaban Atlantis bisa begitu dekat dengan cerita runtuhnya Dayeuh Pajajaran?
- Mengapa Wangsit Prabu Siliwangi masih tetap hidup dan relevan, meski telah lewat ratusan bahkan ribuan tahun?
Naskah ini bukan hendak memaksakan kebenaran tunggal. Justru sebaliknya, ia memberi ruang bagi pembaca untuk menimbang, merenung, bahkan mungkin menolak. Tetapi satu hal yang pasti: setiap kalimat di dalamnya lahir dari niat untuk menjaga warisan leluhur agar tidak terhapus begitu saja oleh arus zaman.
Semua bahasan dalam naskah ini—mulai dari jejak sejarah, wangsit, hingga perbandingan budaya—pada akhirnya bermuara kepada pengungkapan makna “Sunda Anu Sajati”, sebuah istilah yang menjadi inti sekaligus permata dari naskah ini. Penjelasan mengenai hal ini akan hadir di bagian selanjutnya, sebagai pintu bagi pembaca untuk menyelami warisan terdalam peradaban Sunda.
Comments
Post a Comment