BAB. II - PERAN SPIRITUAL UNTUK MENGUNGKAP SEJARAH

PERAN SPIRITUAL UNTUK MENGUNGKAP SEJARAH/BUDAYA YANG HILANG ATAU SENGAJA DIMUSNAHKAN

Sejarah sering ditulis oleh mereka yang berkuasa, sementara suara para leluhur, rakyat kecil, dan saksi batin justru sering terpinggirkan. Itulah sebabnya banyak peristiwa penting yang akhirnya hanya kita kenal dalam bentuk serpihan atau bahkan cerita/dongeng/legenda yang sudah dipelintir.

Dalam konteks Sunda, khususnya Kerajaan Pajajaran, terdapat banyak celah sejarah yang sulit dijelaskan hanya dengan dokumen dan bukti arkeologis. Kita mendengar tentang Prabu Siliwangi, tentang Dayeuh Pakuan, tentang Uga Wangsit Siliwangi—tetapi jejak fisik mereka seolah hilang begitu saja.

Apakah itu berarti Pajajaran hanyalah mitos? Ataukah ada sesuatu yang sengaja disembunyikan?

Di sinilah peran spiritual hadir sebagai jembatan dengan menggunakan amparan sesuai yang diamanatkan oleh Eyang Prabu Siliwangi.

Rasa dan intuisi menjadi sarana untuk membaca kembali pesan-pesan leluhur.

Dzikir dan doa membuka ruang kesadaran, agar batin kita bisa menangkap ilham dan tanda-tanda yang tidak terbaca oleh logika biasa.

Pengalaman batin bisa menjadi saksi tak kasat mata, yang sering kali justru lebih jujur daripada dokumen sejarah yang ditulis belakangan.

Pendekatan ini bukan berarti meninggalkan akal sehat. Justru sebaliknya, ia menggabungkan rasa, firasat, dan logika sederhana. Dengan begitu, apa yang tampak sebagai mitos bisa dibaca sebagai simbol, dan apa yang tampak sebagai dongeng bisa dipahami sebagai jejak sejarah yang tersamar.

Contohnya, Uga Wangsit Siliwangi yang selama ini hanya dibaca sebagai petuah biasa, bahkan dianggap dongeng,  ternyata menyimpan kode tentang pergerakan manusia, arah migrasi, bahkan prediksi tentang kehancuran dan kebangkitan kembali Pajajaran. Kalimat-kalimatnya memang sederhana, namun jika direnungkan, terasa ada kekuatan yang melampaui zamannya.

Maka dari itu, naskah ini berangkat dari keyakinan bahwa spiritualitas adalah kunci untuk membuka sejarah yang hilang. Tanpa itu, kita hanya akan terjebak pada catatan resmi yang kaku, yang sering kali justru menutup pintu terhadap kebenaran yang lebih luas.

Dengan memadukan spiritualitas, intuisi, logika dan refleksi sejarah, kita akan mencoba menelusuri kembali eksistensi Pajajaran. Bahkan, kita akan berani mempertanyakan: apakah mungkin masih ada “Pajajaran Anyar”—sebuah kebangkitan baru yang lahir dari rahim sejarah lama?

Comments

Popular posts from this blog

KATA PENGANTAR

FASE NUSANTARA SEBAGAI JEMBATAN PERADABAN