PASCA BANJIR NEGERI PASUNDAN
Pasca Banjir Negeri Pasundan Sebagai Titik Awal Penyebaran Peradaban Manusia Modern ke Seluruh Dunia
Dalam lintasan batin dan firasat yang saya rasakan, Nusantara—khususnya Tanah/Negeri Pasundan yang wilayahnya seluruh wilayah Asia Tenggara saat ini, itu pernah mengalami sebuah peristiwa dahsyat yang disebut sebagai Banjir Besar/Raksasa. Peristiwa ini bukan hanya sekadar banjir lokal, melainkan bencana maha besar yang mengubah wajah bumi, menenggelamkan negeri, memisahkan pulau-pulau, dan memaksa manusia untuk berpencar ke segala penjuru dunia. Peristiwa itu terabadikan dalam Uga Wangsit Siliwangi, yaitu "....ulah sina talangke, sabab talaga bakal bedah!"
Saya sering membayangkan peristiwa itu seperti semut yang sarangnya terendam air. Dalam sekejap, mereka berlarian ke segala arah, mencari tempat aman untuk bertahan hidup. Demikianlah gambaran sederhana manusia kala itu: tercerai-berai oleh air bah, lalu menetap di tempat-tempat baru, membawa bekal pengetahuan dan kebudayaan dari tanah asalnya.
Banjir purba itu telah menghapus banyak jejak peradaban besar. Namun, yang tersisa adalah DNA budaya dan bahasa yang masih bisa kita telusuri. Kata suku bangsa sendiri memberi isyarat: suku berarti bagian, cabang, pecahan dari satu bangsa besar. Maka, sejatinya bangsa-bangsa di dunia adalah pecahan dari satu keluarga manusia yang pernah hidup bersama di sebuah tanah asal.
Melalui rasa dan batin, saya meyakini bahwa Sunda Purba adalah salah satu pusat utama tempat manusia itu berkumpul sebelum berpencar. Dari sinilah muncul jejak-jejak kemiripan bahasa, budaya, dan nilai kehidupan di berbagai belahan dunia. Tidaklah aneh bila hari ini kita mendapati kesamaan kosakata Sunda dengan bahasa Tagalog di Filipina, atau bahkan resonansi kata dengan Hindi di India, Rusia, hingga Eropa Timur. Semua itu seperti serpihan memori purba yang masih tertinggal.
Banjir purba Nusantara bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah penyebaran peradaban baru. Dari sinilah manusia modern purba membangun kembali kehidupannya, dengan membawa warisan spiritual, kearifan, dan tata nilai yang kelak membentuk wajah dunia.
Maka, memahami Pasca Banjir Nusantara bukan hanya mengenang bencana besar, melainkan membaca ulang jejak sejarah manusia: dari mana kita berasal, bagaimana kita terpecah, dan bagaimana kita tetap terhubung sebagai satu keluarga besar umat manusia.
Insyaallah di salah satu bab dalam naskah ini akan sedikit disinggung bukti nyata yang mengarahkan analisa kita kepada kebenaran bahwa di Negeri Pasundan- Parahyangan/ Nusantara / Indonesia ini lah di mulainya peradaban manusia purba modern bahkan awal dari peradaban manusia sejak awal manusia pertama yang agung menginjakan kakinya, yaitu Nabi Adam AS.
Wallahu a’lam bissawab. 🤲
Comments
Post a Comment