SUNDA SEBAGAI MERCUSUAR DUNIA
Fase Nusantara tidak hanya bicara soal perdagangan, pertukaran budaya, atau persamaan bahasa. Ada sesuatu yang lebih halus, lebih dalam, dan lebih menentukan: peran spiritual Sunda sebagai roh penyatu.
Orang Sunda sejak dahulu bukan bangsa penakluk. Mereka tidak membangun hegemoni dengan pedang, melainkan dengan wewangian batin — silih wangi, silih asih, silih asah, silih asuh. Nilai ini yang kemudian menjalar ke seluruh kepulauan.
Di Jawa, roh Ki Sunda hadir sebagai penyejuk di tengah dinamika politik kerajaan-kerajaan besar. Kita bisa merasakan bagaimana kisah-kisah persaudaraan dan perkawinan antar bangsawan sebetulnya adalah ikhtiar spiritual untuk merajut harmoni.
Di Sumatra, dalam arus Sriwijaya yang begitu kuat, roh Sunda tetap ada sebagai pengingat bahwa ilmu dan perdagangan harus berpijak pada keseimbangan, bukan hanya kejayaan materi.
Di Bali dan Nusa Tenggara, nilai harmoni Sunda bergema dalam penghormatan pada alam.
Di Maluku dan Papua, roh Ki Sunda hadir lewat lagu rakyat, tarian, bahkan kosakata sederhana yang seolah menyambungkan mereka pada satu ibu yang sama.
Peran spiritual Sunda ini bisa diibaratkan seperti air yang meresap ke tanah. Tidak selalu tampak di permukaan, tapi dari situlah tumbuh pohon-pohon peradaban di seluruh Nusantara bahkan seluruh dunia.
Inilah yang kemudian mengantar pada Pajajaran Anyar. Sebab roh Ki Sunda tidak pernah mati, ia hanya berdiam sejenak, menunggu saatnya kembali menebarkan harum. Dan waktunya kini mulai nampak: dunia sedang resah, peradaban global kehilangan arah, dan manusia mencari mercusuar.
Mercusuar itu saat ini berada di NKRI untuk memberikan penerangan bagi generasi generasi milenial saat ini. Itulah "Sunda" yang artinya "Cahaya Abadi" yang akan selalu menerangi siapapun di bumi ini dan menerangi apapun di bumi ini sehingga yang sudah terang menjadi lebih jelas dan yang gelap akan terlihat jelas. Sejarah yang sudah benar akan menjadi lebih baik dan begitu pula sejarah yang bohong dan penuh rekayasa akan tersingkap dan terlihat jelas.
Seperti kata Prabu Siliwangi: "Sakabeh turunan dia ku ngaing bakal dilanglang."
Kalimat ini bukan sekadar pesan biologis, tapi isyarat spiritual: roh Ki Sunda akan kembali menengok semua anak cucunya di penjuru dunia, untuk merajut persaudaraan sejati dengan tanpa ada dusta dan rekayasa diantara kita.
Alloh SWT berfirman,: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Kasundaan sebagai Mercusuar dunia dan roh Ki Sunda akan masuk ke segala penjuru dunia "ngalanglang ka sakabeh katurunana" sebagai penerang, bagaikan cahaya Mercusuar yang selalu menerangi kapal-kapal yang berlayar di lautan yang gelap.
"Sesungguhnya asal muasalnya bahwa Sunda itu bukanlah Suku / etnis, melainkan sebuah Peradaban Manusia, yaitu awal dari peradaban manusia di muka bumi ini, yaitu PERADABAN SUNDA"
Comments
Post a Comment