FASE MASA KASUNDAAN SETELAH PASCA BANJIR
FASE MASA KASUNDAAN SETELAH PASCA BANJIR
Setelah banjir besar yang menenggelamkan kota-kota tua Sunda Purba dan memporak-porandakan peradaban sebelumnya, manusia-manusia yang selamat hidup dalam kepanikan, berpencar ke berbagai arah. Ada yang menetap di dataran tinggi, ada yang bertahan di pesisir, dan lain sebagainya . Peristiwa itu bukan sekadar bencana alam, tetapi juga titik balik sejarah peradaban manusia modern yang menyebar ke segala arah penjuru bumi.
Di tanah Pasundan sendiri, orang-orang yang selamat dari banjir kemudian mulai membangun tatanan kehidupan baru. Mereka mewarisi ingatan tentang kota besar yang hilang, tentang kejayaan yang pernah berdiri, tentang ilmu pengetahuan, tentang budaya, tentang agama, tentang keyakinan kepada Dzat/Entitas Yang Maha Pencipta dan tentang pesan-pesan leluhur agar tetap menjaga keseimbangan dengan alam. Dari sinilah lahir fase baru Kasundaan, sebuah kelahiran kembali setelah kehancuran.
Kasundaan itu sendiri berarti tempatnya cahaya, tempatnya kebaikan, tempat air/perairan, tempat suci, tempat para entitas suci, dan masih banyak arti dari kata Kasundaan tersebut yang harus kita bahas di bab khusus tentang makna Sunda, Kasundaan dan Pasundaan.
Orang-orang yang selamat dari banjir, bercampur antara penduduk pribumi dan bangsa-bangsa lainya. Di wilayah Negeri Pasundan saat itu adalah sebuah negeri yang menjadi tempat berkumpulnya orang-orang dari segala penjuru dunia untuk melakukan aktivitas perniagaan khususnya di Dayeuh Pakuan Pajajaran. Pada saat terjadinya banjir raksasa maka mereka terjebak banjir dalam waktu yang sangat lama.
Orang-orang dari bangsa lain yang pada saat sebelum datangnya banjir berada di wilayah Dayeuh Pajajaran sedang melakukan perniagaan, mereka tidak bisa keluar dari wilayah Dayeuh Pajajaran lagi karena jalur pelayaran terputus oleh timbunan lumpur tebal dan material-material lainya, sehingga jalur tersebut tidak bisa lagi dilayari oleh kapal-kapal yang dari Dayeuh Pajajaran keluar menuju Atlantik, dan begitu pula yang dari luar tidak bisa masuk ke wilayah Dayeuh Pajajaran. Maka oleh karena itu Negeri Pasundan terisolir oleh air banjir yang bercampur lumpur tebal dan material-material lainya dalam masa yang cukup lama.
Hal ini diucapkan oleh Plato, "...… when afterwards sunk by an earthquake, became an impassable barrier of mud to voyagers sailing from hence to the ocean."
Mereka orang-orang asing yang berasal dari berbagai bangsa yang terjebak banjir dalam waktu yang sangat lama itu, akhirnya mereka menetap di wilayah Pasundan - Pakuan Pajajaran atau Nusantara dan berbaur dengan masyarakat lokal, lalu menurunkan generasi-generasi berikutnya.
Setelah generasi berikutnya muncul dan sudah mendapatkan banyak pengetahuan di banyak bidang dari para leluhurnya, yang para leluhurnya pun mendapatkan keilmuan dan keterampilan itu dari masa Dayeuh Pajajaran masih berdiri, yang mereka dapatkan dari aktivitas-aktivitas pada masa Dayeuh Pajajaran masih berjaya.
Lalu generasi berikutnya itu setelah jalur pelayaran sudah bisa dilalui lagi, mungkin inovasi yang orang-orang itu lakukan dengan membuat kapal-kapal yang lebih canggih, maka mereka melanjutkan kebiasan leluhur-leluhurnya berniaga ke negara-lainya, sambil ingin mengunjungi tanah asal para leluhur mereka.
Salah satunya bisa jadi keturunan dari bangsa Yunani yang dulunya kakeknya terjebak di Dayeuh Pakuan Pajajaran, lalu anak cucunya kembali ke Yunani atas wasiat dari leluhur mereka. Mengingat bahwa hubungan antara Yunani, Mesir dan Negeri Pasundan sudah terjalin baik. Bisa jadi sebagian kisah mitologi tentang Dewa Dewi yang mereka punya itu berasal dari Negeri Pasundan-Parahyangan purba. Seperti misalkan, Poseidon yaitu Dewa Air/Laut. Serta kisah dewa-dewa lainya yang diadopsi dari kisah-kisah keagamaan/keyakinan dari bangsa Pasundan.
Ada hal yang menarik, penulis pernah iseng memasukkan kata Poseidon di google translate bersuara ke dalam bahasa Yunani, dan suara itu terdengar seperti menyebut kata Pasudan (sayangnya setelah itu pada hari-hari berikutnya google translate itu sudah berubah suara pengucapannya, entah kenapa). Seperti seolah-seolah merujuk kepada kata Pasundan, yang juga bermakna tempat berkumpulnya banyak air. Pa=tempat, Sunda=air, ditambah akhiran "an", kurang lebih artinya tempat banyak air, tempat berkumpulnya air (banyaknya sungai yang mengalir ke tempat itu bersatu menjadi danau). Danau yang di atasnya berdiri Dayeuh Pajajaran. Dan secara kebetulan atau memang begitulah sebenarnya menurut kisah yang didapat oleh Plato dari para imam Mesir, bahwa Atlantis itu dibangun oleh Dewa Poseidon.
Arti "dewa" tidak selalu merujuk kepada suatu entitas gaib. Bisa saja artinya gelar untuk orang-orang yang dihormati atau dimuliakan atau diagungkan. Bisa saja artinya gelar seorang raja atau pemimpin yang sangat dimuliakan yang juga mempunyai kemampuan/keahlian tertentu, bisa saja artinya seorang yang ahli di bidang tertentu. Jika demikian konsepnya, mungkin yang dimaksud Dewa Laut/Air yaitu seorang raja yang mempunyai kerajaan di atas air atau dikelilingi oleh perairan atau laut. Jika demikian kita sangat mengenal Prabu Siliwangi Sri Baduga Maharaja sebagai raja yang kerajaannya dikelilingi oleh perairan yang seolah-olah terlihat seperti kerajaan di atas air.
Hal ini bisa kita lihat dari beberapa nama para raja Sunda yang memakai gelar dewa, antara lain: Dewa Sanghyang (Raja Sunda Galuh), Dewa Niskala (Raja Galuh), Sri Raja Dewata Sri Baduga Maharaja, serta Raja Dewa Warman I, Raja Dewa Warman II dan seterusnya.
Hal ini sangatlah jelas bahwa yang dimaksud "dewa" bukanlah entitas gaib seperti yang disangkakan orang-orang di masa kini.
Sri Baduga Maharaja sangat terkenal karena telah membangun sebuah konsep kanal air yang canggih di Kerajaan Pajajaran waktu itu, yaitu yang berfungsi sebagai irigasi yang mengairi ribuan hektar sawah dan itu membuat bangsa Pasundan menjadi bangsa yang makmur, gemah Ripah loh jinawi.
Disamping berfungsi sebagi irigasi untuk persawahan juga berfungsi sebagai aliran sungai dari pelosok negeri menuju ke kota besar yaitu Dayeuh Pajajaran yang dijadikan sebagai sarana transportasi air agar memudahkan transportasi hasil bumi ke Dayeuh Pajajaran sebagai pasar dunia. Selain itu juga kanal-kanal air yang bermuara di wilayah Dayeuh Pajajaran itu juga menjadikan sarana transportasi keluar masuknya kapal-kapal niaga dari luar negeri Pasundan ke dalam wilayah negeri Pasundan dan begitu pula sebaliknya. Yang melewati pintu masuk berupa selat yaitu Selat Malaka (jauh sebelum Negara Malaysia lahir), Selat Karimata (untuk kapal-kapal dari Asia Timur yaitu Tiongkok dan lain-lain), Serta Selat Sunda sebagai pintu masuk dari sisi sebelah selatan.
Comments
Post a Comment