Posts

TITIK AWAL PENYEBARAN PERADABAN MANUSIA MODERN

 PASCA BANJIR NUSANTARA – TITIK AWAL PENYEBARAN PERADABAN MANUSIA MODERN Bayangkanlah sejenak sebuah wilayah besar yang bernama Pajajaran Purba (yang diyakini yaitu wilayah Asia Tenggara saat ini), berdiri Kerajaan megah di tanah Pasundan. Dayeuh Pakuan Pajajaran kala itu bukan hanya sekadar ibu kota, melainkan simbol peradaban yang telah maju dalam tata pemerintahan, budaya, dan ilmu pengetahuan. Namun, kehendak Alloh SWT berjalan dengan caranya sendiri. Banjir maha dahsyat, yang dalam lintasan batin ini serupa dengan banjir Nabi Nuh AS, mengguncang seluruh tatanan. Air bah Tsunami raksasa dari Samudera Atlantik (Samudera Hindia saat ini) menerjang tanpa pandang bulu., sungai meluap, dan ombak sebesar bukit menghantam daratan. Dayeuh Pakuan pun porak poranda. Dalam sekejap, manusia-manusia yang semula hidup teratur menjadi tercerai-berai, seperti semut-semut yang panik ketika sarangnya disapu air. Mereka berlarian, terpisah, berusaha menyelamatkan diri dan keluarganya. Ada yang me...

FASE MASA KASUNDAAN SETELAH PASCA BANJIR

 FASE MASA KASUNDAAN SETELAH PASCA BANJIR Setelah banjir besar yang menenggelamkan kota-kota tua Sunda Purba dan memporak-porandakan peradaban sebelumnya, manusia-manusia yang selamat hidup dalam kepanikan, berpencar ke berbagai arah. Ada yang menetap di dataran tinggi, ada yang bertahan di pesisir, dan lain sebagainya . Peristiwa itu bukan sekadar bencana alam, tetapi juga titik balik sejarah peradaban manusia modern yang menyebar ke segala arah penjuru bumi. Di tanah Pasundan sendiri, orang-orang yang selamat dari banjir kemudian mulai membangun tatanan kehidupan baru. Mereka mewarisi ingatan tentang kota besar yang hilang, tentang kejayaan yang pernah berdiri, tentang ilmu pengetahuan, tentang budaya, tentang agama, tentang keyakinan kepada Dzat/Entitas Yang Maha Pencipta dan tentang pesan-pesan leluhur agar tetap menjaga keseimbangan dengan alam. Dari sinilah lahir fase baru Kasundaan , sebuah kelahiran kembali setelah kehancuran. Kasundaan itu sendiri berarti tempatnya cahaya...

ATLANTIS PLATO, DAYEUH PAJAJARAN DAN BANJIR PURBA

 Atlantis Plato, Dayeuh Pajajaran - Sunda Purba, dan Banjir Purba Jika kita menelaah kembali ucapan Plato tentang Atlantis, jelas ia sedang menggambarkan sebuah negeri agung yang tenggelam oleh banjir besar. Dalam pandangan batin, kisah itu bukanlah sekadar dongeng, melainkan gema dari sebuah kenyataan sejarah peradaban manusia. Atlantis itu sejatinya adalah Sunda Purba – tanah leluhur yang pernah menjadi pusat peradaban dunia, sebelum bencana besar meluluhlantakkannya. Banjir purba yang dikisahkan dalam kitab-kitab suci – yang kita kenal sebagai banjir Nabi Nuh ‘Alaihis Salam – dalam rasa batin ini sejalan dengan runtuhnya Atlantis versi Plato. Gelombang air maha dahsyat menenggelamkan kota-kota besar, termasuk Dayeuh Pajajaran Purba, dan memaksa manusia tercerai-berai ke seluruh penjuru dunia. Dari sinilah muncul bangsa-bangsa, bahasa-bahasa, dan suku-suku yang beraneka ragam. Sunda Purba yang hilang itu tidak berarti musnah sepenuhnya. Ia meninggalkan jejak melalui keturunan, bu...

ATLANTIS PLATO DAN SUNDA PURBA

 Atlantis Plato dan Sunda Purba Plato dalam dialog Timaeus dan Critias menyampaikan sebuah kisah yang ia dengar dari gurunya, Socrates, dan berasal dari catatan Mesir kuno ribuan tahun sebelumnya. Ia menuturkan tentang negeri besar bernama Atlantis, sebuah peradaban yang sangat maju, subur, kaya raya, tetapi kemudian tenggelam dalam bencana banjir maha dahsyat. Plato menulis, negeri itu berada “di seberang Pilar Herkules” (beyond the Pillars of Heracles). Pilar Herkules yang dimaksud adalah Selat Gibraltar, pintu sempit yang memisahkan Laut Tengah dengan Samudra Atlantik. Dari sana, katanya, terdapat samudra luas, pulau-pulau besar, bahkan sebuah benua yang mengelilingi samudra sejati. Namun tafsir atas ucapan Plato itu masih diperdebatkan. Apakah benar ia menunjuk ke Samudra Atlantik, ataukah ia sedang menggunakan simbol geografis yang dapat dibaca dengan cara lain? Di sinilah intuisi kita membawa kepada sebuah kemungkinan besar: bahwa kisah Plato sebenarnya merujuk pada sebuah pe...

KI SUNDA - AWAL PERADABAN MANUSIA DI BUMI

Image
  Asal mulanya Sunda itu bukanlah suku, melainkan sebuah peradaban manusia yang tertua di dunia, bahkan merupakan sebagai awal dari peradaban manusia di muka bumi ini.......

ILUSTRASI DAYEUH PAJAJARAN / ATLANTIS

Image
Berikut ini adalah ilustrasi atau gambaran dari situasi dan letak Dayeuh Pajajaran - Atlantis pada masa keemasannya sebelum tenggelam diterjang Tsunami raksasa pada masa itu. - Letaknya di dataran rendah, di Lebak Cawene, jika diperkirakan yaitu di sebelah Utara Jakarta dan berada di Laut Jawa sekarang. - Jaman keemasan Dayeuh Pajajaran yaitu pada masa kepemimpinan Prabu Siliwangi Sri Baduga Maharaja. - Posisi Kota Dayeuh Pajajaran / Atlantis berada di atas air sungai besar seperti Setu / Danau. Sedangkan setu itu sendiri terbentuk karena semua aliran air  sungai purba dari seluruh pegunungan di pulau jawa, Sumatra dan Kalimantan bermuara ke dataran rendah tersebut yang berlangsung ribuan tahun sehingga membentuk genangan air yang kita kenal dengan sebutan setu atau danau. Aliran sungai-sungai purba yang bermuara ke Dayeuh Pajajaran jumlahnya banyak sekali.  Dayeuh Pakuan Pajajaran dengan kanal-kanal air yang ditata rapi merupakan sarana transportasi air modern, juga berfungsi...

NEGERI ATLANTIS ADALAH DAYEUH PAJAJARAN

 Analisa Plato tentang Atlantis dan  Kaitan   dengan Sunda Purba Plato (427–347 SM), filsuf Yunani, dalam dialognya Timaeus dan Critias, menyinggung tentang Atlantis, sebuah negeri besar, makmur, dan berperadaban tinggi. Negeri itu digambarkan terletak “di seberang Pilar Herkules” (yang kini diyakini sebagai Selat Gibraltar). Ia berkata bahwa bangsa Atlantis memiliki kekuatan militer besar, tapi akhirnya tenggelam dalam semalam oleh bencana banjir besar dan gempa bumi karena "kesombongan dan kehilangan harmoni dengan hukum Ilahi." Meski banyak yang meragukan, ada juga ilmuwan yang meyakini bahwa kisah Atlantis bukan sekadar mitos. Atlantis dipandang sebagai simbol peradaban purba yang hilang. Jika kita tarik ke Tanah Pasundan / Negeri Parahyang, ada banyak titik sambungnya antara ucapan Plato dengan situasi dan keadaan Negeri Pasundan - Dayeuh Pakuan Pajajaran masa itu, mari kita buat perbandinganya dengan Gilbartar. Dalam kesempatan ini saya hanya membahas sedikit saja d...