Posts

PACA BANJIR SUNDA PURBA

Image
 

SUNDA SEBAGAI MERCUSUAR DUNIA

Fase Nusantara tidak hanya bicara soal perdagangan, pertukaran budaya, atau persamaan bahasa. Ada sesuatu yang lebih halus, lebih dalam, dan lebih menentukan: peran spiritual Sunda sebagai roh penyatu. Orang Sunda sejak dahulu bukan bangsa penakluk. Mereka tidak membangun hegemoni dengan pedang, melainkan dengan wewangian batin — silih wangi, silih asih, silih asah, silih asuh. Nilai ini yang kemudian menjalar ke seluruh kepulauan. Di Jawa, roh Ki Sunda hadir sebagai penyejuk di tengah dinamika politik kerajaan-kerajaan besar. Kita bisa merasakan bagaimana kisah-kisah persaudaraan dan perkawinan antar bangsawan sebetulnya adalah ikhtiar spiritual untuk merajut harmoni. Di Sumatra, dalam arus Sriwijaya yang begitu kuat, roh Sunda tetap ada sebagai pengingat bahwa ilmu dan perdagangan harus berpijak pada keseimbangan, bukan hanya kejayaan materi. Di Bali dan Nusa Tenggara, nilai harmoni Sunda bergema dalam penghormatan pada alam. Di Maluku dan Papua, roh Ki Sunda hadir lewat lagu rakyat,...

FASE NUSANTARA SEBAGAI JEMBATAN PERADABAN

  FASE NUSANTARA JEMBATAN PERADABAN DARI PASUNDAN KE SELURUH DUNIA Setelah melalui fase Kasundaan yang masih bersifat murni dan terpusat di Tanah Pasundan-Parahyangan, perlahan namun pasti peradaban itu mulai mengalir ke berbagai penjuru Nusantara yang kala itu Nusantara merupakan seluruh wilayah Asia Tenggara saat ini. Arus ini bagaikan aliran sungai yang meninggalkan mata airnya, menyusuri lembah dan lautan, hingga akhirnya menyuburkan banyak tanah dan melahirkan kehidupan baru. Perjalanan panjang itu kemudian kita kenal sebagai fase Nusantara, di mana Sunda bukan lagi sekadar nama sebuah tanah, melainkan menjadi roh yang berkelana ke seluruh kepulauan. Dari Sunda, benih bahasa, adat, dan spiritualitas mengalir ke Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali, Sulawesi, Maluku, hingga Nusa Tenggara. Bahkan lebih jauh lagi, pengaruhnya menyeberangi lautan sampai ke Filipina, India, dan tanah Asia lainnya. Dalam fase inilah, jejak Sunda seolah larut ke dalam banyak nama dan bentuk peradaban. Nam...

PASCA BANJIR NEGERI PASUNDAN

  Pasca Banjir Negeri Pasundan Sebagai Titik Awal Penyebaran Peradaban Manusia Modern ke Seluruh Dunia Dalam lintasan batin dan firasat yang saya rasakan, Nusantara—khususnya Tanah/Negeri Pasundan yang wilayahnya seluruh wilayah Asia Tenggara saat ini, itu pernah mengalami sebuah peristiwa dahsyat yang disebut sebagai Banjir Besar/Raksasa. Peristiwa ini bukan hanya sekadar banjir lokal, melainkan bencana maha besar yang mengubah wajah bumi, menenggelamkan negeri, memisahkan pulau-pulau, dan memaksa manusia untuk berpencar ke segala penjuru dunia. Peristiwa itu terabadikan dalam Uga Wangsit Siliwangi, yaitu "....ulah sina talangke, sabab talaga bakal bedah !" Saya sering membayangkan peristiwa itu seperti semut yang sarangnya terendam air. Dalam sekejap, mereka berlarian ke segala arah, mencari tempat aman untuk bertahan hidup. Demikianlah gambaran sederhana manusia kala itu: tercerai-berai oleh air bah, lalu menetap di tempat-tempat baru, membawa bekal pengetahuan dan kebuday...

BAB. IV - FASE MASA KASUNDAAN PURBA

FASE MASA KASUNDAAN PURBA  (SEBELUM MASA NUSANTARA) Bab ini menelusuri perjalanan peradaban Sunda sebelum munculnya istilah Nusantara. Kita menggunakan pendekatan amparan spiritual, rasa, firasat, dan logika sederhana untuk memahami eksistensi Pajajaran dan peradaban Sunda purba. 1. Kehilangan Dayeuh Pakuan Berdasarkan Uga Wangsit Siliwangi, Pajajaran pernah mengalami bencana besar yang menghilangkan pusat kotanya, Dayeuh Pakuan. Hilangnya kota ini bukan karena perang biasa, tetapi akibat banjir dahsyat yang menyeret seluruh kota. Fenomena ini selaras dengan kisah banjir Nabi Nuh AS. Maka bisa jadi masa kepemimpinan Prabu Siliwangi Sri Baduga Maharaja sejaman dengan Nabi Nuh AS. Dan peristiwa yang fenomenal itu terdokumentasikan dengan abadi dalam Wangsit Siliwangi, yaitu ".....Ulah sina talangke, sabab Talaga bakal bedah" 2. Hubungan dengan Kapal Nabi Nuh AS  Tradisi dan ilham batin menunjukkan bahwa kayu jati yang digunakan untuk pembuatan kapal Nabi Nuh AS, konon berasal ...

BAB. III - BUKTI BUKTI NYATA YANG MASIH ADA

BUKTI-BUKTI NYATA DI DUNIA DAN DI INDONESIA YANG MENGARAH KEPADA KEBESARAN PAJAJARAN Sejarah Pajajaran tidak hanya tersimpan dalam catatan lisan atau Uga Wangsit Siliwangi, tetapi juga dapat ditelusuri melalui fenomena nyata di dunia dan di Nusantara. Beberapa indikator yang dapat dijadikan petunjuk: 1. Perpecahan Wilayah Banyak wilayah Nusantara yang dulunya merupakan satu kesatuan budaya Sunda kemudian mengalami perpecahan. Contohnya Banten dan Depok. Perpecahan ini bukan hanya secara administratif, tetapi juga dalam konteks budaya, bahasa, dan adat istiadat. Fenomena ini menunjukkan bahwa ada dinamika kekuasaan yang menyingkirkan pusat budaya lama. 2. Perubahan Bahasa dan Kosakata Bahasa Sunda memiliki kemiripan dengan bahasa Tagalog (Filipina), Hindi (India), bahkan bahasa Rusia. Hal ini menunjukkan kemungkinan adanya penyebaran budaya Sunda melalui migrasi purba yang luas, dan menegaskan peran Pajajaran sebagai pusat peradaban Nusantara. 3. Jejak Arkeologi dan Geografis Banyak pen...

BAB. II - PERAN SPIRITUAL UNTUK MENGUNGKAP SEJARAH

PERAN SPIRITUAL UNTUK MENGUNGKAP SEJARAH/BUDAYA YANG HILANG ATAU SENGAJA DIMUSNAHKAN Sejarah sering ditulis oleh mereka yang berkuasa, sementara suara para leluhur, rakyat kecil, dan saksi batin justru sering terpinggirkan. Itulah sebabnya banyak peristiwa penting yang akhirnya hanya kita kenal dalam bentuk serpihan atau bahkan cerita/dongeng/legenda yang sudah dipelintir. Dalam konteks Sunda, khususnya Kerajaan Pajajaran, terdapat banyak celah sejarah yang sulit dijelaskan hanya dengan dokumen dan bukti arkeologis. Kita mendengar tentang Prabu Siliwangi, tentang Dayeuh Pakuan, tentang Uga Wangsit Siliwangi—tetapi jejak fisik mereka seolah hilang begitu saja. Apakah itu berarti Pajajaran hanyalah mitos? Ataukah ada sesuatu yang sengaja disembunyikan? Di sinilah peran spiritual hadir sebagai jembatan dengan menggunakan amparan sesuai yang diamanatkan oleh Eyang Prabu Siliwangi. Rasa dan intuisi menjadi sarana untuk membaca kembali pesan-pesan leluhur. Dzikir dan doa membuka ruang kesada...